Kamis, 22 September 2011

PROMOSI PERDAMAIAN AMBON-MALUKU

Teman's
Berikut saya berikan kondisi faktual Ambon pasca rusuh 11 September 2011
dan upaya mitigasi perdamaian yang dilakukan masyarakat sipil Ambon.
Tulisan ini adalah hasil kerja keras Bung Jacky Manuputty Cs. Sengaja
kami menyampaikan tulisan ini kepada semua teman di seluruh Indonesia,
shg mengetahui keadaan Ambon terkini. Harap bisa diteruskan melalui
millis dan blog ke semua teman yang lain. Kami punya kekuatiran, apa

yang telah diupayakan stakeholder lokal untuk menciptakan Ambon yang
damai, dikaburkan dengan informasi sesat yang sampai ke teman2 semua.
Terbukti, ada kecenderungan saudara2 kita yang dari Jawa mau ke Ambon
untuk berjihad, kami maklumi itu, karena mereka mendapat informasi Ambon
yang tidak proposional.
Semoga info ini, mejadi pikiran dasar untuk secara nasional kita
ciptakan negeri ini (NKRI) menjadi negeri yang damai.
Piet Pattiwaellapia (Koalisi Pengungsi Maluku)
-----------------------------------------------------------
*MERETAS JALAN DAMAI*
Sejak kemarin, 13 September 2011 sampai hari ini situasi keamanan di
Ambon boleh dikatakan semakin baik. Kemarin subuh saya bersama beberapa
teman mencoba berjalan kaki pada beberapa ruas jalan utama untuk
memantau aktifitas masyarakat, serta mengukur tingkat interaksi
masyarakat di ruang publik. Di depan PHB, kami melihat beberapa anak
sekolah SLTA berseragam menyeberangi jalan menuju sekolah mereka di
daerah Tanah Tinggi (wilayah dominan Kristen). Mereka adalah anak-anak
prajurit TNI yang tinggal di komplek PHB. Perginya anak-anak tentara ke
sekolah bagi kami merupakan salah satu indikator berkembangnya situasi
aman di Kota Ambon. Dalam perjalanan itu kami gembira menjumpai beberapa
penjual koran eceran mulai menjajakan korannya di jalan. Begitu pula
pengayuh-pengayuh becak, secara terbatas mulai melewati jalan-jalan yang
sehari sebelumnya terlihat sangat sepi dan lenggang. Di beberapa pojok
jalan berpapasan dengan pemuda-pemuda tukang ojek dengan wajah gembira
menawarkan jasa ojek kepada orang yang lalu lalang disekitar situ.
Sekalipun beberapa ruas jalan masih dipersempit, namun kami menemukan
banyak pengguna jalan sudah memberanikan diri melewati wilayah-wilayah
perbatasan, seperti Galunggung (Muslim) dan Galala (Kristen).
Dengan hati gembira kami memutuskan untuk mengunjungi wilayah Mardika
Bawah/Halong Mardika yang terbakar sehari sebelumnya. Kegembiraan kami
berangsur sirna ketika tiba di wilayah itu dan melihat sebuah rumah
mulai terbakar di hadapan pemiliknya, sementara disekitarnya terlihat
puluhan aparat Raiders 733 Kodam Pattimura berseliweran tanpa melakukan
apapun. Anak-anak yang “dianggap” (oleh warga Mardika) membakar rumah
itu terlihat memasuki rumah untuk (sekedar) memadamkannya dengan
menggunakan air pada gayung-gayung kecil. Warga Mardika serta pemilik
rumah hanya menonton sambil memaki-maki mereka, karena aparat tak
memberi kesempatan bagi mereka untuk mengamankan rumah itu, atau
melakukan pemadaman sendiri. Api terlanjur membesar dan tak ada tindakan
apapun dari puluhan aparat yang menonton. Barulah 1,5 jam kemudian,
datang sebuah mobil pemadam kebakaran dan menyiram sisa-sisa bara api
yang masih menyala. Di jalan raya, kami temukan banyak barang peralatan
rumah tangga yang diletakan oleh keluarga-keluarga disekitar wilayah
situ, dalam persiapan mereka untuk mengungsi ke lain tempat. Menurut
kami, sikap aparat yang demikian akan berakibat pada pelanggengan emosi
yang sewaktu-waktu dapat menyulut konflik. Syukurlah bahwa disaat
kejadian itu berlangsung, banyak pengendara kendaraan tetap tenang
melewati daerah itu, tanpa diganggu oleh masyarakat korban yang sedang
menonton rumahnya terbakar. Kesadaran masyarakat untuk tidak memperbesar
konflik patut diacungkan jempol.
Sambil dipenuhi kemarahan karena melihat ulah aparat, kami meninggalkan
daerah itu menuju perbatasan Batu Merah-Mardika. Disana kami
memperhatikan kendaraan-kendaraan yang mulai melewati perbatasan, dan
juga mengamati ekspresi penumpang kendaraan serta masyarakat sekitarnya.
Merebak harapan bagi berkembangnya damai, ketika kami melihat bahwa
dengan senyum tersungging banyak pengguna jalan melewati daerah itu,
sekalipun kami tahu bahwa tentunya mereka menyimpan ketegangan di dalam
hati. Dari pertigaan Batu Merah-Mardika kami menyusuri wilayah Belakang
Soya, dan mampir sebentar untuk menjenguk para pengungsi yang menempati
kantor SKB serta kantor DPR Kota Ambon yg terletak di wilayah itu. Hujan
semakin deras ketika kami kembali ke kantor pada jam 12.00am. Di dalam
hati kami berharap hujan turun deras hari ini, supaya
kemungkinan-kemungkinan gerakan masa konflik bisa diredam.
Sekembalinya kami ke kantor, catatan berbagai issue liar sudah menunggu
untuk diklarifikasi. Tentunya ini hal yang menyenangkan, karena
membuktikan bahwa teman-teman aktivis perdamaian bekerja semakin intens
untuk melakukan klarifikasi issue-issue liar dan provokatif lintas
wilayah. Teman-teman telah bersepakat untuk mengimbangi kecepatan
penyebaran issue-issue provokatif, dengan cara memperluas “provokasi
perdamaian” melalui jaringan pertemanan lintas agama. Melakukan
klarifikasi issue-issue merupakan salah satu agenda yang secara intens
dilakukan.
Sekitar jam 2pm kami menerima telpon menggembirakan, yang
menginformasikan adanya perjumpaan teman-teman KNPI Daerah Maluku di
salah satu warung kopi. Pertemuan ini berujung pada kesepakatan untuk
mengembangkan intensitas perjumpaan-perjumpaan di ruang publik.
Sayangnya kami tak bisa menghadiri pertemuan ini, karena kami telah
bersepakat melakukan pertemuan “provokasi perdamaian” lintas iman dengan
teman-teman lainnya. Pada sore harinya sebuah berita gembira lainnya
diterima, bahwa pada hari itu/Selasa, 13/09/2011, di Pulau Saparua,
tepatnya di Negeri Siri Sori Salam/Islam, telah dilakukan Rapat Saniri
Latupati/”Raja-raja adat” bersama muspika dan tokoh-tokoh agama untuk
menyikapi konflik di Ambon, dan memperkuat koordinasi pengamanan Pulau
Saparua. Selain perjumpaan pemuka adat & agama di Pulau Saparua,
intensitas perjumpaan warga masyarakat lintas agama nampak semakin
berkembang di kota Ambon. Di salah satu pusat perbelanjaan yang terletak
di wilayah Urimesing, terlihat beberapa warga pemeluk agama lainnya
berbelanja dengan tenang sambil, diantaranya, menggendong anak
balitanya. Pemandangan serupa terlihat di restaurant cepat saji, KFC,
yang berlokasi di wilayah yang sama. Beberapa pemuda lintas agama dengan
santainya makan bersama sambil bercanda.
Pada jam 8pm, kembali kami memperoleh kiriman sms untuk menganalisa dan
mengklarifikasi beberapa issue yang memicu ketegangan masyarakat di
beberapa wilayah. Diantaranya, issue bahwa rombongan FPI telah tiba di
Ambon dan merencanakan serangan fajar ke wilayah Waringin, gereja Silo,
Ahuru dan Aster. Memperoleh informasi itu, teman-teman Muslim segera
menyebar untuk mengklarifikasinya. Ternyata semua issue itu tak benar,
dan karenanya diinformasikan kembali kepada komunitas Kristen di
wilayah-wilayah tersebut. Tidak saja menyampaikan informasi, teman-teman
bahkan berupaya menghubungkan Ibu pendeta jemaat GPM di wilayah Ahuru
dengan teman Muslim di wilayah yang sama. Dengan begitu, mereka
diharapkan dapat saling mengklarifikasi berkembangnya issue secara
langsung melalui hubungan telpon. Selain issue Ahuru, diperoleh kabar
juga bahwa Negeri Galala akan diserang oleh komunitas Muslim dari
wilayah Aster. Banyak warga Galala segera berkemas untuk mengungsi.
Ternyata issue ini tak benar, setelah diteliti oleh teman-teman Muslim.
Lucunya, issue itu berkembang setelah terjadinya insiden bentrokan
suami-isteri satu keluarga Kristen di wilayah Aster, diakibatkan sang
suami mabuk berat. Suami yang mabuk itu kemudian mengacau dan
menimbulkan kepanikan warga sekitar. Di dalam kepanikan itu, beberapa
orang lalu memukul tiang listrik, yang sekaligus mendistribusikan
kepanikan itu kepada warga Galala. Masih pada malam yang sama beredar
issue bahwa pasukan batalion Siliwangi telah tiba di Ambon pada hari
itu. Informasi yang nyatanya keliru,setelah dilakukan uji ulang. Masih
banyak sekali issue yang berkembang pada malam itu, dan sebagian besar
diantaranya berhasil diklarifikasi melalui jejaring persahabatan lintas
batas, yang berjuang keras memprovokasi perdamaian.
Bersama dingin subuh kami tiba di rumah, setelah melewati
jalanan-jalanan lenggang yang dipenuhi aparat keamanan, sepanjang ruas
jalan raya Pattimura menuju daerah Batu Gantung. Beberapa mobil panser
TNI berdiri angkuh memalang jalan, sementara para prajurit TNI
bersenjata lengkap berjaga-jaga disekitarnya. Sisa malam itu kami lewati
dengan pulas untuk menghimpun tenaga bagi pekerjaan lanjutan keesokan
harinya.
Jam menunjukan pukul 10am, Rabu 14/09/11, ketika kami terbangun dan
mendapati arus kendaraan telah ramai di daerah Batu Gantung. Meskipun
jalanan raya memasuki daerah Waihaong masih diblokir aparat TNI, namun
kami memberanikan diri untuk melewatinya dalam perjalanan menuju ke
jalan raya Pattimura. Sepanjang jalan di wilayah Waihaong, kami
menyaksikan warga masyarakat Muslim telah beraktifitas dengan ramai.
Jalur dua arah yang baru dibuka sebagai akibat dari konflik, cukup
disesaki oleh aktifitas masyarakat pagi itu. Beberapa teman Muslim yang
kami jumpai dalam perjalanan itu menyapa kami dengan ramah. Sesekali
kami berhenti untuk bercakap-cakap sebentar dengan mereka. Tidak terasa
adanya ketegangan berlebihan disitu, bila mengingat wilayah itu
merupakan tempat tinggal pengemudi ojek yang meninggal, dimana
kematiannya kemudian memicu terjadinya konflik antar masyarakat. Di
depan Masjid Jami’e kami menyaksikan banyak pengungsi menempati beranda
masjid. Suatu fakta yang dengan jelas menginformasikan bahwa konflik
“antar pemeluk agama” telah mengakibatkan kesusahan yang amat sangat
bagi kedua komunitas. Tentu tak ada yang akan pernah memenangkan konflik
ini, karenanya hanya tersedia satu opsi untuk diambil masyarakat, DAMAI!
Syukurlah bahwa, dalam pantauan kami, mayoritas warga masyarakat
menginginkannya. Konflik sebelumnya pada tahun 1999-2004 menyisakan
trauma dan kengerian yang cukup panjang, bagi siapapun yang
mengalaminya. Karena itu hampir seluruh warga masyarakat secara antusias
mendukung, dan bahkan terlibat dalam upaya-upaya damai, sekalipun dengan
kapasitas dan bentuk yang berbeda-beda. Kecuali tentunya
kelompok-kelompok kecil yang berupaya mengambil keuntungan dari
merebaknya konflik baru.
Pada jam 12am sampai jam 3pm, bersama beberapa sahabat lintas iman, kami
menjumpai beberapa teman yang baru tiba dari Jakarta untuk kepentingan
investigasi. Rupanya konflik Ambon masih menjadi magnet kuat bagi banyak
teman dari luar, untuk datang dan mengamatinya dari dekat, seraya
berupaya memberikan kontribusi pemikiran terkait langkah-langkah
penghentian kekerasan dan upaya-upaya membangun perdamaian. Dalam
percakapan bersama di dua hotel terpisah, kami melakukan pemetaan aktor
lokal dan jaringannya, yang diduga kuat turut memperkeruh situasi
konflik. Tanpa rasa sungkan, baik teman Muslim maupun Kristen,
mengemukakan aktor-aktor lokal yang ada di komunitas masing-masing
secara terbuka. Begitu pula dianalisa peran-peran mereka, yang dianggap
memprovokasi peningkatan eskalasi konflik. Percakapan kami kemudian
berkembang lebih luas untuk mengkaji fenomena radikalisasi, serta
sebaran kelompok-kelompok radikal pada komunitas-komunitas agama di Ambon.
Sementara berlangsungnya percakapan, saya harus meninggalkan teman-teman
untuk mengantarkan dua teman warga negara asing, yang akan berangkat ke
Masohi dengan menumpangi kapal cepat dari pelabuhan Mamokeng di Negeri
Tulehu. Bergegas saya menyewa taksi di pangkalan taksi sekitar Ambon
Plaza untuk menjemput kedua teman ini di hotel yang terletak di
“pemukiman Kristen.” Pengemudi taksi berasal dari negeri Tulehu, dan
karenanya percakapan diantara kami menjadi menarik, terkait pandangannya
dan pandangan masyarakat Tulehu terhadap berkembangnya konflik baru ini.
Masyarakat Tulehu merupakan salah satu komunitas Muslim besar di Jazirah
Salahutu, Pulau Ambon. Di negeri ini terletak pelabuhan besar antar
pulau, yang melayani penyeberangan antar pulau dari Ambon ke pulau
Seram, Nusalaut, Saparua dan Haruku. Sebagian besar komunitas dari
pulau-pulau ini dihuni oleh warga beragama Kristen. Mereka sangat
bergantung pada pelabuhan Tulehu sebagai tempat transit dalam perjalanan
ke Kota Ambon. Selama konflik lalu, pelabuhan ini tertutup dalam jangka
waktu lama, karena Jazirah Salahutu termasuk area sebaran konflik.
Belajar dari pengalaman itu, maka sejak hari pertama konflik, pertemuan
negeri-negeri di Salahutu telah dilakukan. Salah satu keputusannya
adalah memberikan jaminan keamanan sepenuhnya bagi semua pengguna jasa
pelabuhan, apapun perbedaan agamanya. Karenanya tak heran bahwa
sepanjang perjalanan ke Tulehu, bung pengemudi taksi dengan bangga
bercerita panjang lebar tentang ketahanan masyarakat negeri Tulehu,
untuk tidak terpancing provokasi-provokasi liar yang bisa memicu konflik
disana. Halmana terbukti setibanya kami disana. Para buruh pikul, serta
penjaja makanan kecil, dengan ramah menawarkan jasanya bagi kami. Mereka
bahkan menemani kami membeli ticket kapal untuk kedua teman saya.
Setelah kedua teman ini memperoleh tempatnya di kapal, segera saya
bergegas kembali ke Ambon dengan menumpangi mobil yang sama, sambil
menikmati celotehan ramah pengemudi taksi ini tentang
kekecewaan-kekecewaannya terhadap merebaknya konflik baru, serta
harapannya pada penyelesaian konflik ini secepatnya.
Setibanya di Ambon, segera saya bergabung kembali dengan rekan-rekan
yang telah menyelesaikan percakapannya dengan rekan peneliti dari
Jakarta. Kami telah bersepakat untuk kembali melakukan pertemuan
“provokasi damai” di wilayah lain hari itu; dan tempat yang kami pilih
adalah warung ikan bakar yang berderet sepanjang daerah sekitar Ambon
Plaza. Disana saya temukan beberapa teman wartawan telah bergabung untuk
mewawancarai kami, maupun untuk mengklarifikasi beberapa data yang
mereka miliki. Percakapan lepas diselingi wawancara berlangsung santai,
diselingi joke-joke khas Maluku yang membuat suasana semakin
mengasyikan. Selain melanjutkan klarifikasi issue dan data-data lain,
kami secara serius membicarakan model intervensi bagi beberapa wilayah
pinggiran yang tidak terimbas konflik, namun yang memiliki tingkat
ketegangan tinggi diantara masyarakatnya. Wilayah-wilayah itu antara
lain di sekitar Poka, Rumah Tiga, Wayame dan Kota Jawa. Dirasa perlu
untuk melakukan intervensi program di wilayah-wilayah ini, dengan
mempertimbangkan percampuran masyarakat lintas agama yang tinggal
disitu. Akhirnya kami tiba pada kesepakatan untuk membuat design program
dalam waktu beberapa hari ke depan, serta mengupayakan pembiayaannya.
Lembaga Antar Iman Maluku (LAIM) diharapkan membuat design intervensinya
dengan didukung oleh teman-teman lainnya.
Selepas makan bersama, kami memutuskan untuk melanjutkan percakapan di
kantor Litbang GPM, dengan mengajak lebih banyak teman lainnya. Beberapa
teman telah lebih dahulu menunggu disana ketika kami tiba. Percakapan
dimulai setelah kami menonton display foto-foto suasana konflik pada
beberapa wilayah di Kota Ambon. Kumpulan foto-foto ini diperoleh dari
teman-teman lintas agama, yang mengabadikan setiap peristiwa konflik
dari sudut-sudut pengambilan gambar yang berbeda. Dengan begitu kami
memperoleh gambaran yang cukup utuh, baik dari sudut pandang wilayah
Muslim maupun Kristen, disaat terjadinya benturan masa sejak konflik
pada hari Minggu lalu. Berdasarkan kajian foto kami melakukan analisa
lanjutan dan berbagi pengalaman bersama tentang peristiwa demi peristiwa
pada komunitas kami masing-masing. Tak terkesan ada informasi yang
disembunyikan. Semua rekan mengemukakan versi ceritanya terhadap
peristiwa yang sama dari sudut pandang yang berbeda.
Beberapa orang diantara sahabat-sahabat Kristen kami yang hadir dalam
percakapan dimaksud, adalah mereka yang juga korban pembakaran rumah,
dan yang saat ini turut mengungsi bersama keluarganya. Menariknya, tak
terkesan sedikitpun dendam atau kemarahan berlebihan yang mendistorsi
jalannya percakapan kami; bahkan teman-teman yang menjadi korban ini
turut memberikan sumbangan pemikiran, dan ide-ide konstruktif untuk
mengembangkan dialog dan perdamaian. Sementara itu teman-teman Muslim
dengan gamblang mengemukakan analisa-analisanya, sambil saling
melengkapi detail data dengan teman-teman Kristen. Sesekali percakapan
kami terpotong dengan telpon atau SMS yang meminta klarifikasi terhadap
issue-issue yang berkembang. Salah satu issue yang sempat kami
klarifikasi malam ini adalah beredarnya informasi di kalangan warga
Kristen daerah Talake, bahwa salah seorang pengendara sepeda motor
beragama Kristen yang mencoba melintasi wilayah Waihaong, kemudian
terjatuh dan dibantai disana oleh komunitas Muslim Waihaong. Segera
setelah menerima SMS itu, teman-teman Muslim melakukan klarifikasi ke
Waihaong dan memperoleh informasi bertentangan. Menurut teman-teman di
Waihaong, adalah benar bahwa ada seorang pengendara motor yang terjatuh
disitu, namun ia diselamatkan segra oleh aparat keamanan yang bertugas
disitu. Selanjutnya ia diantar pulang tanpa bersentuhan dengan satupun
warga Muslim Waihaong. Informasi ini kemudian diteruskan kembali kepada
komunitas warga Kristen Talake, dan mereka menerimanya dengan sukacita.
Percakapan berlangsung terus dengan penuh semangat tentang berbagai
peristiwa yang terjadi. Rekan-rekan Muslim dengan gamblang bercerita
bagaimana mereka berhasil mengidentifikasi dan menemukan salah seorang
pemuda Muslim yang melakukan provokasi di media sosial FB. Sementara itu
teman-teman Kristen mengemukakan kecurigaan mereka terhadap beberapa
pemuda Kristen yang disinyalir turut memprovokasi masyarakat untuk
berkonflik. Berdasarkan percakapan yang terjadi, kami menyepakati untuk
merevisi struktur tabel pendataan kronologis kejadian, dimana setiap
rekan diminta mengisinya dari hari ke hari. Dengan begitu kami bisa
dilengkapi dengan sejumlah data yang cukup otentik, untuk melakukan
analisa lanjutan secara bersama.
Selain mendiskusikan format pendataan, kami membicarakan juga
pengembangan dinamika berbagai kelompok yang teridentifikasi melakukan
upaya-upaya “provokasi perdamaian.” Bila memungkinkan, kami merencankan
untuk menganyam kelompok-kelompok ini melalui beberapa kegiatan; namun
salah satu persoalan yang kemudian muncul adalah bagaimana kami
membiayai proses-proses bersama ini, apabila kegiatan-kegiatan ini
memiliki konsekwensi pembiayaan. Sejauh ini, semua kami bekerja secara
sukarela berdasarkan idealisme dan keterpanggilan setiap teman untuk
membangun perdamaian. Menyadari tantangan ini, teman-teman lalu
menyepakati bahwa kami perlu membatasi diri dulu, dengan melakukan
kegiatan-kegiatan yang tidak memiliki konsekwensi pembiayaan. Dengan
begitu intensitasnya bisa terjaga tanpa harus menggantungkan diri pada
pembiayaan. Diakhir percakapan malam ini, kami meminta salah satu teman
peneliti, yang datang dari Salatiga, untuk melakukan sedikit pembedahan
terhadap dinamika dialog lintas agama, serta pemetaan ideologi
kelompok-kelompok konservatif agama. Percakapan pada sesi terakhir ini
menarik karena teman peneliti (yang sedang melakukan penelitian tentang
konflik Maluku bagi disertasi doktornya) ini mengemukakan beberapa hasil
penelitiannya, yang diantaranya memperhadapkan kami dengan fakta, bahwa
kapasitas dialog dan apresiasi lintas agama di Maluku masih berada pada
level yang rendah. Banyak orang bisa dengan gamblang memperlihatkan
sikap toleran, dan respek yang tinggi terhadap kemajemukan agama,
bilaman ia hadir dalam ruang publik. Sebaliknya ketika ia kembali ke
ruang private, ia menjadi orang-orang yang sangat konservatif dan
intoleran. Suatu fakta yang tentunya menarik, dan menjadi tantangan
bersama, bagi teman-teman yang sungguh-sungguh bekerja bagi perdamaian
dan dialog lintas agama di Maluku saat ini. Dalam percakapan ini kami
juga secara gamblang mengulas fenomena berkembangnya radikalisasi agama
di Ambon dan sekitarnya diantara kelompok-kelompok anak muda. Hal yang
sangat menantang tentunya untuk disikapi.
Percakapan hangat kami malam itu terputus dengan ketukan pintu yang
terdengar beberapa kali. Ternyata setelah dibuka, kami menemukan Wakil
Walikota/wawali Ambon dan beberapa temannya telah berdiri disitu. Mereka
kami persilahkan masuk dan bergabung dalam percakapan bersama, sehingga
kami bisa juga mengetahui sikap dan strategi pemerintah Kota Ambon untuk
menangani konflik ini. Percakapan bersama wawali dan teman-temannya
berlangsung lebih kurang 45 menit sebelum mereka meninggalkan ruang.
Kami menyepakati untuk melakukan tanggung jawab kami masing-masing dan
bersinergi untuk meningkatkan dinamika perdamaian di Kota Ambon. Satu
hal yang digaransi wawali malam ini, bahwa ia telah mencoba “mengunci”
pemain-pemain lokal lama konflik Maluku, untuk tidak melibatkan diri
dalam dinamika konflik saat ini; namun yang dikhawatirkan bilamana
kelompok-kelompok dari luar Maluku berdatangan ke Ambon, dan kembali
meningkatkan militansi konflik. Terhadap kekhawatiran itu, pemerintah
kota telah mengambil sikap untuk melaklukan razia identitas secara ketat
terhadap semua pendatang yang memasuki Ambon saat ini. Tentunya kami
berharap langkah ini bisa membuahkan hasil yang baik untuk mereduksi
dinamika konflik, dan mengembangkan dinamika damai secara maksimal.
Sebelum meninggalkan ruang, kami bersepakat untuk meningkatkan
koordinasi bersama terkait upaya-upaya damai yang dilakukan pihak
pemerintah Kota Ambon.
Seluruh percakapan diselesaikan sekitar jam 11pm, sebelum teman-teman
Muslim kembali ke rumah masing-masing. Sementara teman-teman Kristen
memutuskan untuk begadang semalaman dan mengisi tabel kronologis, atau
juga melakukan “provokasi damai” secara online. Saat update berita ini
diselesaikan pada jam 7am, 15/09/11, beberapa teman sudah tergeletak
tidur beralaskan bangku, atau bahkan melonjorkan badan di lantai
seadanya. Kasur mereka adalah mimpi indah tentang merebaknya perdamaian
yang langgeng bagi Ambon dan Maluku.
Apa yang kami lakukan secara strategis sesungguhnya merupakan hal sangat
sederhana yang kerap dilupakan banyak orang. “Provokasi Perdamaian”
dilakukan dengan memanfaatkan “jaringan pertemanan” yang digandakan, dan
diperbesar lingkarannya dari hari ke hari. Pertemanan individu
digandakan dengan harapan terjadinya pertemanan kelompok. Kami menyadari
bahwa pertemanan yang tulus tak membutuhkan banyak duit. Begitu pula tak
diikat oleh agenda-agenda politik, atau bertujuan mencari
keuntungan-keuntungan tertentu dibalik setiap kegiatan bersama.
Militansi pertemanan menjadi semakin kokoh, ketika disadari bersama
bahwa di dalam membangun relasi pertemanan setiap orang harus saling
menyelamatkan. Konflik adalah tantangan besar yang akan menghancurkan
pertemanan kami, bilamana tak dikelola dengan baik. Dengan sendirinya
mengelola konflik secara strategis, merupakan upaya saling menjaga
diantara teman, demi keselamatan bersama ke depan. Begitulah yang kami
lakukan dengan sadar, sambil berharap dengan sungguh-sungguh, bahwa
upaya-upaya kecil ini bisa mentransformasikan energi negatif konflik
menjadi energi positif damai. Semoga teman-teman tetap bertahan untuk
mengelola hal-hal kecil ini dengan konsisten dalam suatu proses panjang,
sambil memanen sukacita moral disaat jalan perdamaian mulai teretas.
Jacky Manuputty
sumber 

Google
PROMOSI PERDAMAIAN AMBON-MALUKU Reviewed by Aramis Night on 9/22/2011 11:04:00 AM PROMOSI PERDAMAIAN AMBON-MALUKU Rating: 4.5

0 komentar:

Poskan Komentar

Site Search